Eksekutif Sepakat AI Memperkuat Kinerja Manusia, Bukan Menggantikan Peran Pekerja
Para eksekutif dari berbagai industri memiliki pandangan yang hampir sama mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI) pada 2026. Mereka menilai AI bukan sekadar alat untuk memangkas biaya, tetapi teknologi yang mampu memperluas kemampuan manusia dalam menciptakan ide, meningkatkan produktivitas, dan menghasilkan solusi yang lebih inovatif.
Baca Juga “Indonesia jadi negara paling kreatif menggunakan AI visual“
Pandangan tersebut muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI di dunia kerja. Riset Work Trend Index 2026 dari Microsoft menunjukkan bahwa adopsi AI di Indonesia berkembang pesat. Namun, hanya 42 persen pengguna AI di Indonesia yang merasa kebijakan penggunaan AI di perusahaan mereka memiliki arah yang jelas dan konsisten.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara strategi AI yang disampaikan pimpinan perusahaan dan pengalaman pekerja dalam menjalankan teknologi tersebut sehari-hari. Meski demikian, sejumlah eksekutif menegaskan bahwa keberhasilan implementasi AI tetap bergantung pada keputusan, kreativitas, dan tanggung jawab manusia.
Agensi Kreatif Gunakan AI untuk Memperluas Kapasitas Tim
Reza Andika, CEO ALVA Digital Network, menjelaskan bahwa perusahaannya menerapkan transparansi dalam penggunaan AI kepada klien. Menurutnya, klien perlu memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan agar dapat melihat nilai yang dihasilkan.
Reza mengatakan timnya memanfaatkan AI dalam berbagai tahap pekerjaan, mulai dari pengembangan ide kreatif, riset, penyusunan informasi, hingga peningkatan efisiensi operasional.
“Kami lebih suka klien memahami mesinnya, ketimbang membayangkannya sendiri,” ujar Reza.
Menurutnya, AI bukan digunakan untuk menggantikan pekerjaan manusia, melainkan membantu tim menghasilkan lebih banyak eksplorasi. Teknologi tersebut memberikan ruang bagi pekerja untuk fokus pada strategi, kreativitas, dan pengambilan keputusan yang membutuhkan pengalaman.
Pandangan serupa disampaikan Faiz Fashridjal, Co-Founder dan CEO Sepenuhati. Ia menjelaskan bahwa perusahaannya membagi penggunaan AI berdasarkan kebutuhan dalam setiap tahapan produksi.
Sepenuhati menggunakan pendekatan bernama Windfinder untuk menangkap sinyal budaya dan bisnis, Big Wave untuk mengembangkan ide kreatif besar, serta Ripple Content untuk menjaga keberlanjutan konten digital.
AI diterapkan secara berbeda pada setiap tahap. Tim strategi memanfaatkannya untuk menganalisis informasi, tim account menggunakannya untuk mengevaluasi kebutuhan klien, sedangkan tim kreatif memakainya untuk eksplorasi visual dan pengembangan aset.
Faiz menegaskan bahwa perusahaan tidak memaksakan penggunaan AI jika teknologi tersebut tidak memberikan nilai tambah.
“Tanggung jawab akhir tetap ada di tangan kami,” kata Faiz.
Klien Menentukan Batasan Penggunaan Teknologi AI
Meskipun AI memberikan banyak peluang, perusahaan tetap harus memperhatikan batasan yang ditentukan klien. Reza menjelaskan bahwa sebagian klien justru mendorong penggunaan AI karena membutuhkan proses yang lebih cepat dan fleksibel.
Namun, beberapa klien juga menetapkan aturan ketat. Misalnya, data perusahaan tidak boleh dimasukkan ke model AI publik, penggunaan wajah atau identitas talenta harus memiliki izin khusus, serta hasil AI tidak boleh digunakan langsung pada materi akhir tertentu.
Menurut Reza, batasan tersebut menjadi pedoman bagi agensi dalam menjaga kepercayaan klien.
“Batasan mereka adalah batasan kami,” ujarnya.
Faiz memberikan contoh melalui proyek bersama Cimory yang menggunakan AI dalam proses produksi materi komersial. Pada proyek tersebut, AI menjadi bagian utama dari pengembangan karya.
Namun, pada proyek lain, penggunaan AI dilakukan secara lebih selektif. Teknologi tersebut digunakan untuk memperluas lingkungan visual, memperbaiki bagian tertentu, atau membantu proses pascaproduksi.
Menurut Faiz, penggunaan AI tetap membutuhkan kesepakatan yang jelas sejak awal. Tim harus menentukan bagian yang dapat dibantu AI, elemen yang harus dipertahankan secara manual, serta standar kualitas yang harus dicapai.
Efisiensi AI Menghasilkan Lebih Banyak Pekerjaan Kreatif
Penggunaan AI tidak selalu berarti pengurangan pekerjaan. Reza menjelaskan fenomena tersebut melalui konsep Jevons Paradox, yaitu ketika suatu teknologi membuat proses menjadi lebih efisien, kebutuhan terhadap sumber daya tersebut justru dapat meningkat.
Dalam konteks industri kreatif, AI mempercepat pekerjaan dasar seperti riset dan produksi awal. Namun, waktu yang tersisa kemudian digunakan untuk mengembangkan ide yang lebih kompleks.
Menurut Reza, timnya justru terdorong menciptakan lebih banyak inovasi setelah menggunakan AI. Bahkan, beberapa anggota tim non-programmer mulai membuat aplikasi internal untuk membantu pekerjaan mereka.
Waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan berulang kini dialihkan ke pengembangan strategi, pengujian konsep, dan eksplorasi kreatif.
Faiz juga melihat manfaat serupa. Menurutnya, waktu yang dihemat AI dapat digunakan untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada klien, meningkatkan kualitas hasil kerja, serta memperluas proses eksperimen.
Namun, ia mengingatkan bahwa AI bukan bentuk efisiensi tanpa biaya. Perusahaan tetap perlu menginvestasikan sumber daya untuk pelatihan, perangkat teknologi, pengawasan kualitas, dan pengembangan kemampuan tim.
Hasil AI Tetap Membutuhkan Penilaian Manusia
Meski kemampuan AI terus berkembang, para eksekutif menilai teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan. Reza menjelaskan bahwa salah satu risiko terbesar adalah hasil AI yang terlihat hampir selesai, tetapi sebenarnya belum memenuhi standar kualitas.
“Hasil AI itu bisa terlihat 80 persen jadi, padahal belum benar-benar selesai,” ujar Reza.
Menurutnya, AI sangat membantu sebagai akselerator pada tahap awal, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan manusia yang memiliki pengalaman dan pemahaman konteks.
Ia menggambarkan AI seperti kolaborator junior yang mampu bekerja cepat, tetapi masih membutuhkan arahan dan evaluasi dari manusia.
Faiz menemukan tantangan serupa dalam produksi video berbasis AI. Menurutnya, menghasilkan satu gambar menarik relatif mudah, tetapi membuat cerita visual yang konsisten jauh lebih sulit.
Beberapa kendala yang sering muncul antara lain perubahan karakter antaradegan, pergeseran detail produk, masalah tipografi, hingga gerakan yang terlihat tidak alami.
Selain aspek teknis, AI juga masih memiliki tantangan dalam memahami konteks budaya dan emosi lokal.
“Hasil yang secara teknis rapi kadang tidak menangkap humor, tekstur emosional, atau detail kecil yang membuat sesuatu terasa Indonesia,” kata Faiz.
Perusahaan Besar Terapkan AI sebagai Pendukung Keputusan
Pandangan mengenai AI sebagai pendukung manusia juga muncul dari sektor lain. Karin Zulkarnaen, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, menjelaskan bahwa perusahaan memanfaatkan AI untuk meningkatkan layanan, termasuk mendukung proses analisis klaim dan pelayanan nasabah.
Baca Juga “Mayoritas Pengguna Gemini RI Manfaatkan AI untuk Buat Konten“