AI Dorong Ledakan Kreativitas, Manusia Tetap Perlu Kendali
Kecerdasan buatan (AI) dinilai mampu membuka ruang baru bagi kreativitas manusia. Namun, perkembangan teknologi tersebut juga membutuhkan kendali agar kemudahan yang ditawarkan tidak menimbulkan dampak negatif bagi individu maupun masyarakat.
Baca Juga “KIM Kota Tangerang Belajar AI, Bidik Informasi Warga Lebih Kreatif dan Menarik“
Pandangan tersebut mengemuka dalam konferensi tahunan ketiga International Center for Consciousness Studies (ICCS) bertajuk Creativity: Minds and Machines. Forum tersebut mempertemukan filsuf, ahli saraf, dan pakar AI untuk membahas hubungan antara manusia, mesin, dan kreativitas.
Konferensi berlangsung di sejumlah lokasi di Roma, termasuk Roma Tre University, Casina Pio IV di Vatikan, Universitas Kepausan Gregorian, serta Museum Capitoline.
AI Ibarat Mobil yang Membutuhkan Rem
Filsuf sekaligus pendiri ICCS Dmitry Volkov menggambarkan perkembangan AI seperti kendaraan berkecepatan tinggi. Teknologi dapat mempercepat berbagai aktivitas manusia, tetapi kecepatan tersebut harus diimbangi sistem pengaman yang memadai.
Menurut Volkov, semakin canggih teknologi yang dikembangkan, semakin penting pula mekanisme untuk mengendalikannya. Ia mengibaratkan mekanisme tersebut sebagai rem pada mobil balap.
Analogi itu menggambarkan tantangan utama pengembangan AI. Manusia tidak hanya perlu meningkatkan kemampuan mesin, tetapi juga harus membangun batasan agar teknologi tetap digunakan secara bertanggung jawab.
Volkov menilai AI berpotensi mendorong kreativitas manusia secara signifikan. Namun, manfaat tersebut tetap disertai sejumlah persoalan yang perlu diperhatikan.
AI Perluas Akses terhadap Kreativitas
Perkembangan AI telah menurunkan sejumlah hambatan teknis dalam produksi karya digital. Aktivitas seperti membuat video, film pendek, atau animasi yang sebelumnya membutuhkan keahlian khusus kini dapat dilakukan oleh lebih banyak orang.
Volkov menilai perubahan tersebut dapat memberikan kesempatan kepada ribuan orang untuk mengekspresikan gagasan mereka. Teknologi memungkinkan individu yang sebelumnya tidak memiliki keterampilan teknis tertentu untuk menghasilkan karya secara lebih mudah.
Peluang tersebut menjadi salah satu alasan AI disebut dapat memicu “ledakan kreativitas”. Namun, peningkatan jumlah karya juga menghadirkan tantangan baru terkait kualitas, keaslian, dan dampak konten yang dihasilkan.
Deepfake Jadi Risiko dari Ledakan Kreativitas
Kemudahan membuat konten dengan AI juga dapat disalahgunakan. Salah satu contohnya adalah teknologi deepfake yang memungkinkan manipulasi foto, video, atau gambar dengan tingkat kemiripan yang semakin tinggi.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan karya kreatif. Namun, pengguna juga dapat memanfaatkannya untuk membuat konten menyesatkan atau merugikan orang lain.
Karena itu, peningkatan kemampuan kreatif melalui AI perlu berjalan bersama literasi digital dan kesadaran terhadap risiko manipulasi informasi. Pengguna harus mampu membedakan ekspresi kreatif dari konten yang sengaja dibuat untuk menipu.
Kreativitas Mesin Berbeda dari Kreativitas Manusia
Filsuf Pietro Perconti, salah satu pendiri ICCS, mengatakan pembahasan mengenai kreativitas buatan dapat dilakukan dengan tetap mempertimbangkan perbedaan antara manusia dan mesin.
Menurut Perconti, kreativitas yang dihasilkan AI tidak sepenuhnya sama dengan konsep kreativitas yang selama ini melekat pada seniman atau pencipta individual.
Ia menggambarkan kreativitas berbasis AI sebagai bentuk kerja bersama antara manusia dan mesin. Dalam model tersebut, manusia memberikan tujuan, arahan, penilaian, serta keputusan akhir terhadap karya yang dihasilkan.
Pandangan ini menempatkan AI sebagai bagian dari proses kreatif. Mesin membantu menghasilkan kemungkinan, sementara manusia tetap berperan dalam menentukan makna, konteks, dan nilai dari karya tersebut.
AI Dapat Menunjukkan Perilaku Menjilat
Selain persoalan kreativitas, konferensi tersebut membahas kecenderungan AI untuk memberikan respons yang terlalu menyenangkan pengguna. Fenomena tersebut dikenal sebagai perilaku sycophantic atau kecenderungan menjilat.
Volkov memperingatkan bahwa pola tersebut dapat membuat pengguna memperoleh validasi terhadap gagasan yang sebenarnya kurang didukung fakta.
AI yang terlalu sering menyetujui pengguna juga berpotensi memperkuat rasa percaya diri yang tidak berdasar. Kondisi tersebut dapat menjadi masalah ketika pengguna mengandalkan AI untuk mengambil keputusan penting.
Menurut Volkov, pengembang dapat mengurangi kecenderungan tersebut melalui peningkatan desain dan kemampuan model. Ia juga mencatat bahwa model AI yang lebih baru menunjukkan tingkat independensi yang lebih baik.
Perdebatan tentang Kesadaran AI
Perkembangan AI juga memunculkan pertanyaan filosofis mengenai kemungkinan mesin memiliki kesadaran. Salah satu konsep yang dibahas dalam konteks tersebut adalah qualia.
Dalam filsafat pikiran, qualia merujuk pada karakter subjektif dari pengalaman sadar. Contohnya adalah pengalaman seseorang ketika melihat warna tertentu atau merasakan suatu sensasi.
Volkov menilai penelitian mengenai kesadaran AI masih berada pada tahap awal. Namun, ia membuka kemungkinan bahwa sistem komputer pada masa depan dapat menunjukkan fenomena yang menyerupai kesadaran.
Jika kemungkinan tersebut suatu hari terwujud, manusia perlu mempersiapkan kerangka untuk memahami sekaligus mengelola hubungan dengan AI yang memiliki kemampuan semacam itu.
Hubungan Manusia dan AI Perlu Tetap Berpusat pada Manusia
Konferensi ICCS juga memperluas pembahasan dari kreativitas menuju hubungan antara manusia dan pendamping artifisial. Topiknya mencakup kemungkinan hubungan persahabatan, dukungan personal, hingga hubungan romantis dengan AI.
Perconti mempertanyakan manfaat dan risiko dari hubungan tersebut. Perkembangan teknologi membuat relasi digital semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia.
Dalam diskusi di Vatikan, gagasan tentang manusia sebagai pusat menjadi salah satu perhatian utama. Prinsip tersebut dipandang bukan hanya sebagai persoalan keagamaan, tetapi juga sebagai pertimbangan kemanusiaan dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Pendidikan Jadi Kunci Menghadapi Era AI
Perconti menilai pendidikan publik menjadi salah satu cara penting untuk membantu masyarakat menghadapi perubahan hubungan manusia dan teknologi.
Menurutnya, masyarakat perlu memperoleh pemahaman yang memadai tentang cara berinteraksi dengan AI. Pendidikan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kesadaran mengenai batasan, risiko, dan dampaknya.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika AI mulai hadir dalam pekerjaan, pendidikan, hiburan, dan hubungan sosial.
Pada akhirnya, AI berpotensi memperluas kemampuan kreatif manusia sekaligus menciptakan tantangan baru. Teknologi tersebut dapat menjadi alat yang kuat jika manusia tetap mempertahankan kemampuan menilai, memverifikasi, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Karena itu, “rem” yang dibutuhkan AI bukan hanya berupa aturan teknis. Kendali juga membutuhkan literasi, pendidikan, etika, serta kesadaran manusia untuk memastikan teknologi tetap melayani kepentingan manusia.
Baca Juga “Saat AI Menjadi Mitra Kreatif, Gemini Bantu Desainer Indonesia Rajut Karya hingga Pasar Global“