Desainer Perlu Kuasai AI dan Bisnis di Era Industri Kreatif
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mendorong desainer memperluas kompetensi agar mampu menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan industri kreatif. Menurutnya, kemampuan desain kini perlu melampaui keterampilan artistik dan visual.
Desainer juga perlu memahami kecerdasan artifisial atau AI, bisnis, kepemimpinan, kekayaan intelektual, serta budaya. Kombinasi kemampuan tersebut dinilai penting agar talenta desain mampu menghasilkan solusi yang relevan dan berdampak.
Kampus Perlu Menjadi Ruang Eksperimen bagi Talenta Desain
Irene menilai penguatan kompetensi desainer dapat dimulai dari lingkungan pendidikan tinggi. Kampus perlu menyediakan ruang yang mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi gagasan, membuat prototipe, dan belajar dari kegagalan.
Baca Juga “Teguh Setiawan dari IMDE Dorong Siswa SMK Manfaatkan AI sebagai Kolaborator Kreativitas“
“Kampus harus jadi ‘sandbox’, ruang aman di mana mahasiswa boleh bertanya semua hal, membuat prototipe yang gagal, dan mencoba ide yang belum pernah ada tanpa takut dihakimi,” ujar Irene, Minggu (23/8).
Menurut Irene, proses eksperimen tersebut membantu mahasiswa membangun kemampuan adaptasi. Pengalaman mencoba berbagai pendekatan juga dapat membentuk keberanian untuk mengembangkan solusi baru.
Lingkungan akademik dengan budaya eksperimen dapat mempertemukan teori dan praktik. Mahasiswa tidak hanya mempelajari prinsip desain, tetapi juga menguji bagaimana gagasan mereka dapat menjawab kebutuhan masyarakat dan industri.
AI Literacy Menjadi Kompetensi Penting Desainer
Perkembangan AI mengubah cara talenta kreatif bekerja dan mengembangkan produk. Karena itu, Irene menilai desainer perlu memiliki pemahaman dasar mengenai teknologi tersebut.
AI literacy tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat berbasis AI. Desainer juga perlu memahami peluang, keterbatasan, risiko, serta aspek etika ketika teknologi tersebut digunakan dalam proses kreatif.
Pemahaman tersebut memungkinkan desainer memanfaatkan teknologi secara lebih bertanggung jawab. AI dapat menjadi alat pendukung eksplorasi, sementara keputusan kreatif dan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna tetap membutuhkan kompetensi manusia.
Kompetensi Bisnis dan Kepemimpinan Perlu Diperkuat
Selain teknologi, Irene menekankan pentingnya pemahaman bisnis dan kepemimpinan. Desainer perlu mengetahui bagaimana sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi solusi yang memiliki nilai bagi pengguna dan industri.
Kemampuan pemikiran sistemik juga diperlukan untuk memahami persoalan secara menyeluruh. Dengan pendekatan tersebut, desainer dapat melihat hubungan antara kebutuhan pengguna, teknologi, model bisnis, serta dampak sosial.
Irene juga memasukkan kesiapan kekayaan intelektual sebagai kompetensi yang perlu diperhatikan. Pemahaman mengenai IP membantu talenta kreatif mengenali dan mengelola nilai dari karya atau inovasi yang mereka hasilkan.
Desain Tidak Lagi Sekadar Menghasilkan Karya Visual
Irene melihat peran desainer semakin luas seiring berkembangnya kebutuhan industri. Desain tidak hanya berorientasi pada produk visual, tetapi juga dapat digunakan untuk memahami masalah dan merumuskan solusi.
“Desain dapat mengambil peran yang lebih luas, bukan sekadar menghasilkan karya visual, tetapi memahami persoalan, merumuskan solusi, menghubungkan berbagai perspektif, dan menciptakan dampak yang relevan bagi masyarakat maupun industri,” katanya.
Pendekatan tersebut menempatkan desainer sebagai bagian dari proses pemecahan masalah. Talenta desain perlu mampu berkomunikasi dengan berbagai bidang dan menerjemahkan kebutuhan yang kompleks menjadi solusi yang mudah dipahami.
Kolaborasi Lintas Disiplin Membuka Peluang Inovasi
Irene juga mendorong desainer membangun kolaborasi dengan berbagai disiplin. Kerja lintas bidang memungkinkan talenta kreatif memperoleh perspektif baru dalam mengembangkan produk maupun solusi.
Kolaborasi dapat mempertemukan keahlian desain dengan teknologi, bisnis, investasi, kebijakan publik, dan bidang lainnya. Pertukaran pengetahuan tersebut berpotensi memperluas penerapan desain di berbagai sektor.
Penguatan kompetensi dan kolaborasi tersebut menjadi salah satu konteks penyelenggaraan Program Master of Design BINUS atau MODB 2026. Program tersebut berlangsung pada 19-22 Agustus 2026.
MODB 2026 Hubungkan Desain dengan Industri
Program MODB 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan, termasuk MODB Thesis Exhibition, MODB Innovation Talks, dan MODB Design Dealing Room.
Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan gagasan dan inovasi desain dengan masyarakat serta pelaku industri. Program ini juga menghadirkan perspektif dari praktisi, investor, dan pemerintah.
Head of Department Master of Design BINUS Graduate Program Dr Ferric Limano mengatakan MODB dirancang sebagai ruang pertemuan antara inovasi desain dan kebutuhan masyarakat.
“Desain membutuhkan teknologi yang beretika, pemahaman bisnis yang kuat, serta kolaborasi lintas disiplin agar mampu berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas,” ujar Ferric.
Talenta Desain Dituntut Adaptif terhadap Perubahan
Perubahan teknologi membuat kebutuhan terhadap kompetensi desainer semakin beragam. Penguasaan aspek visual tetap penting, tetapi kemampuan memahami teknologi, bisnis, budaya, dan dampak sosial semakin relevan.
Desainer juga perlu membangun kemampuan belajar berkelanjutan. Perkembangan AI dan perubahan kebutuhan industri membuat keterampilan yang relevan saat ini dapat terus berkembang.
Ke depan, talenta desain yang mampu menggabungkan kreativitas dengan literasi teknologi, pemahaman bisnis, dan kolaborasi berpeluang memiliki ruang lebih besar dalam industri kreatif. Pendekatan tersebut juga dapat memperkuat kontribusi desain terhadap masyarakat dan perekonomian kreatif.
Baca Juga “”Turun Langsung ke Lapangan, Mahasiswa KKN UNISRI Dorong Digitalisasi UMKM Desa Ngandul Lewat QRIS“