SFT 2027 Dorong Pemanfaatan AI untuk Kreativitas Desainer
SFT 2027 Integrasikan AI dalam Proses Kreatif Fesyen
Surabaya Fashion Trend (SFT) 2027 mendorong desainer memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperkuat kreativitas dan inovasi. Teknologi tersebut ditempatkan sebagai alat pendukung, bukan pengganti gagasan dan karakter kreatif desainer.
Baca Juga “Pelajar Demak Tunjukkan Kreativitas Cegah Kriminalitas Lewat Konten Video AI“
Head of Event SFT 2027 Enrico Ho mengatakan pendekatan tersebut sejalan dengan tema “Nexus”. Tema ini mempertemukan manusia, teknologi, dan alam dalam perkembangan industri fesyen.
“Sesuai dengan tema saat ini, Nexus, yang mempertemukan manusia, teknologi, dan alam dalam perkembangan industri fesyen, termasuk melalui pemanfaatan kecerdasan buatan,” kata Enrico di Surabaya, Minggu.
AI Digunakan untuk Mendukung Pengembangan Ide
Enrico menjelaskan bahwa desainer dapat menggunakan AI pada tahap awal pengembangan gagasan. Pemanfaatannya saat ini lebih banyak diarahkan untuk brainstorming dan eksplorasi ide.
Meski menggunakan teknologi, konsep utama tetap berasal dari desainer. Karakter, gagasan, serta identitas visual setiap karya tetap menjadi tanggung jawab kreator.
Pendekatan tersebut membuat AI berfungsi sebagai perangkat bantu dalam proses kreatif. Desainer tetap perlu menentukan arah desain dan memastikan hasil akhirnya sesuai dengan konsep yang ingin disampaikan.
Pemanfaatan AI Meluas ke Produksi Visual SFT 2027
Teknologi Membantu Mengembangkan Visual Bergerak
Pemanfaatan AI dalam SFT 2027 tidak hanya diterapkan pada proses pengembangan koleksi. Teknologi tersebut juga digunakan dalam produksi video bumper untuk mendukung kebutuhan visual acara.
Menurut Enrico, tim mengembangkan sketsa dan foto busana menjadi visual bergerak dengan bantuan teknologi AI. Penerapan tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan dalam berbagai tahapan produksi fesyen.
Penggunaan AI pada aspek visual juga membuka peluang eksplorasi baru bagi industri kreatif. Teknologi dapat membantu mengembangkan materi visual tanpa menghilangkan peran manusia dalam menentukan konsep dan arah karya.
Keterlibatan AI Tetap Memiliki Batas
Enrico menekankan pentingnya pemahaman etika dalam penggunaan AI. Desainer perlu memastikan teknologi tidak mengambil alih gagasan maupun identitas karya yang menjadi ciri khas mereka.
“Kalau dari persentase desainer ini sebenarnya belum sampai melebihi 50 persen, karena memang mereka harus tahu etikanya juga,” ujar Enrico.
Secara keseluruhan, sekitar 50 persen koleksi yang ditampilkan memiliki keterlibatan AI. Namun, tingkat penggunaan AI dalam proses penciptaan desain masing-masing koleksi tidak mencapai 50 persen.
Pembatasan tersebut menegaskan bahwa teknologi ditempatkan sebagai alat pendukung. Keputusan kreatif tetap berada pada desainer yang memahami konsep, material, teknik, dan karakter karya.
SFT 2027 Gabungkan Teknologi dengan Praktik Berkelanjutan
Kompetisi Fesyen Ikut Memanfaatkan Pendekatan Teknologi
Enrico mengatakan penggunaan AI secara bertanggung jawab juga diterapkan dalam Fashion Illustration Competition. Kompetisi tersebut dapat menjadi ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi teknologi tanpa mengabaikan prinsip etika kreatif.
Sementara itu, Fashion Upcycling Competition mengajak peserta memanfaatkan material yang sudah tersedia. Peserta mengolah material tersebut menjadi karya fesyen baru dengan pendekatan kreatif.
Kedua kompetisi tersebut memperlihatkan adanya ruang bagi teknologi dan keberlanjutan untuk berkembang secara berdampingan. Kreativitas menjadi penghubung antara inovasi digital dan pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.
Teknologi Fesyen Jadi Tren Baru Industri
Menurut Enrico, keberlanjutan tetap menjadi bagian penting dari perkembangan industri fesyen. Namun, perhatian industri kini semakin meluas ke penerapan teknologi dalam berbagai proses.
“Fesyen sustainability itu terus berjalan. Yang sekarang lagi sangat berkembang itu sebenarnya teknologi, fesyen technology,” tuturnya.
Perkembangan teknologi fesyen dapat mencakup proses kreatif, produksi konten, pengembangan produk, hingga cara jenama berkomunikasi dengan konsumen. Penggunaan AI menjadi salah satu bagian dari perubahan tersebut.
Etika Menjadi Fondasi Pemanfaatan AI dalam Fesyen
Desainer Tetap Memegang Kendali Kreatif
Perkembangan AI memberikan peluang baru bagi desainer untuk mengeksplorasi ide dan mempercepat sejumlah proses kerja. Namun, pemanfaatannya membutuhkan batas yang jelas agar orisinalitas dan identitas kreator tetap terlindungi.
Desainer juga perlu memahami persoalan etika, kepemilikan karya, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Pemahaman tersebut semakin penting ketika AI digunakan untuk menghasilkan atau mengembangkan elemen visual.
SFT 2027 menempatkan pendekatan tersebut dalam kerangka yang menghubungkan manusia, teknologi, dan alam. Model ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat berjalan bersama kreativitas manusia dan perhatian terhadap keberlanjutan.
Ke depan, pemanfaatan AI berpotensi semakin berkembang dalam industri fesyen. Namun, kemampuan desainer dalam menjaga karakter karya dan menerapkan teknologi secara etis akan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas inovasi.
Baca Juga “Kementerian Ekraf Dorong Pemanfaatan AI bagi Talenta Kreatif dan UMKM“